Thursday, November 2, 2017

Tanimbar Kei, Ohoi Wisata Berjulukan Desa Pancasila

Tempat orang-orang Hindu Bali dulu melarikan diri
menghindar dari kecamuk perang, sedang kami anti permusuhan
itu kisah zaman Majapahit
maka sampailah leluhur kami disini
Tanimbar Kei, Ohoi nan damai

Ohoi Bawah, Kampung cantik di Ujung Tenggara Maluku
Desa Pancasila di Tanimbar Kei - Sumpah, gw hampir budeg begitu sampai di dermaga Tanimbar Kei #sok imut dimulai. Itu semua karena kebagian duduk dekat knalpot kapal. Dan selama 4 jam perjalanan dari dermaga Debut itu knalpot kapal menyalak tiada henti ke kuping. Begitu sampai di dermaga Tanimbar Kei, langsung disambut segarnya angin sore hutan mangrove dan aroma laut. Lelah perjalanan dan kuping yang membudeg hilang seketika.
Tiba-tiba kak Leli, penduduk Tanimbar Kei yang bersama gw dari dermaga Debut berjongkok dan mengambil sedikit pasir dengan ujung telunjuknya lalu menempelkan di dahi, persis diatas hidung. “Sebagai pertanda penyambutan warga baru” begitu katanya. Dan secara resmi gw sudah dianggap penduduk Tanimbar Kei oleh leluhur mereka. Begitu kata kak Leli.

Wajah ramah para pejabat desa menyambut, setelah sedikit memperkenalkan diri para tamu dipersilahkan beristirahat di salah satu rumah pejabat desa. Belum ada penginapan yang disewakan disini. Untuk Sarapan dan makan malam tetap di balai desa, dengan menu ikan segar tentunya.



Nasi hangat, Ikan komu asap, sambal colo-colo, air jeruk purut = Surga


Selain udara segar, ikan segar dan ketenangan , hal yang menarik dari Ohoi (sebutan untuk kampung) ini adalah kerukunan dan toleransinya. Suatu hal yang biasa ketika dalam satu rumah terdiri dari Ayah beragama Hindu, Ibu beragama Katolik, anak-anak memilih menjadi Prostestan, Adven atau Muslim. Semuanya bisa hidup rukun tanpa mempermasalahkan keyakinan. Walau berbeda keyakinan mereka sangat taat kepada adat. Sehingga jika terjadi pertikaian tentang apapun akan diselesaikan secara adat.

Satu rumah berbeda keyakinan? itu hal biasa

Pulau Tanimbar Kei terdiri dari tiga Ohoi (kampung), yaitu kampung atas khusus untuk masyarakat adat yang merupakan penduduk asli Tanimbar Kei yang rata-rata beragama Hindu. Semua rumah tinggal mereka merupakan rumah panggung, yang dibangun dengan ketentuan adat. Selanjutnya adalah kampung Bawah, kampung atas dan kampung bawah hanya terpisahkan oleh dinding tebing vertikal 90 derajat. Di tebing ini dibangun tiga tangga, dua tangga dari semen dan satu tangga kayu dengan ukiran ular sebagai pegangannya. Satu kampung yang lain adalah kampung muslim. Kampung muslim terletak disebelah utara kampung atas dan kampung Bawah.


Hewan peliharaan ohoi Atas

Keunikan kampung atas adalah tentang cara mereka memelihara hewan peliharaan. Kambing, ayam, anjing dan babi (babi hitam) hidup bersama dan tinggal dibawah rumah panggung sipemiliknya. Ketika siang hari, semua hewan peliharaan ini berkeliaran dan saling membaur dengan peliharaan para tetangga. Untuk membedakan pemiliknya juga cukup unik, kambing dan babi ditandai dengan bentuk potongan telingannya. Jadi saat masih kecil bayi kambing dan babi akan dipotong sedikit bagian telinganya sebagai tanda.

Sarana pendidikan, disini hanya ada satu sekolah SD Kristen dan SMP sedangkan untuk tingkat SMA, anak-anak Tanimbarkei melanjutkan pendidikan ke kota Tual.



Anak - anak Ohoi di Tanimbar Kei

Oh iya, anugerah desa pancasila ini diberikan ke Tanimbarkei sebagai penghargaan untuk kerukunan antar umat beragama di pulau kecil ini. Bahkan saat kerusuhan 1999 – 2000 yang hampir merata diseluru Maluku Tenggara, pulau Tanimbar Kei tidak ikut tersulut.  

No comments:

Post a Comment

POPULAR ENTRIES

Mama Bandaku

"Rezeki bisa berup a teman yang bisa dipercaya saat kita perlu menangis " Ini adalah hari kedua puluh dari traveling terlamak...